PECI AYAH KEMBALI DIAM-DIAM
![]() |
| Peci ini kembali ke Ayah secara diam-diam melalui Bunda, yang telah ananda Adam titipkan untuk menghilangkan kangen kepada ayah, agar dia bisa fokus menimba ilmu melawan kangen |
Allah memberikan banyak hikmah, kami sudah siap in syaa Allah, masalah "meleleh" ini hanya bagian kesedihan dan kebahagiaan yang kami rasakan untuk penghambaan kepada Allah.
Inilah waktunya, sebelum ke pesantren "umur" anak kami yang pertama masih dalam dekapan kami, dan kini "umur"-nya saat 12 tahun adalah miliknya sendiri, dalam kesehariannya. Semoga mengokokohkan hati-hati kami dan hati orangtua yang sama dengan kami saat ini.
Kami dulu selalu teringat cerita orang tua, saudara, dan rekan yang sedang mengalami hal serupa, macam-macam yang mereka lakukan untuk melawan kangen saat berpisah untuk suatu tujuan yang serupa "menuntut ilmu" di pesantren. Ada yang membawa hal-hal yang disukai kakak, adik, ayah dan bundanya untuk mengobati rasa kangen, membawa foto, tulisan, ada pula yang meminta dikunjungi walau hanya sekali dalam sebulan. Macam-macam bentuknya untuk melawan dan mengobati rasa kangen.
Namun kami mendapatkan pelajaran dari putra kami "Adam" saat pertama dia masuk pesantren. Itu pun saya ketahui setelah istri saya bercerita setelah keluar jauh dari pesantren. Ini dia... yang biasanya gak meleleh, kok sekarang tiba-tiba meleleh juga, hehe. "Ada apa? dan kenapa?" sergah saya, "biasanya juga gak pake meleleh saat meninggalkan anakmu", guyon saya, walau secara diam-diam melihat ke jalan saya pun ikut berkaca-kaca, hehe.
Dia menunjukkan sebuah peci hitam yang biasa saya pakai sholat, yang kebetulan dibawa adam ke pesantren, dan dia sengaja meminta peci saya untuknya di pesantren. Ada apa dengan peci itu? kenapa peci itu sekarang ada ditangan istri saya bukan ada pada Adam. Ternyata Adam menukar peci tersebut dengan pecinya yang ada di rumah dan mengembalikan diam-diam ke Bundanya, "Bun, ini peci Ayah, biar mas Adam gak kangen ama Ayah". (Yaa Rabb, selama ini aku tak pernah melihat bentuk kangen yang luar biasa darinya, tapi kini kau tunjukkan begitu dia sangat mencintai ayahnya (selama ini dia cukup cuek dan biasa saja, terlihat anak yang mandiri)). Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada para Asatidzah yang sehari-hari di pesantren telah menggantikan fungsi kami yang minim dengan ilmu ini, memberikan pelajaran yang sangat berharga yang in syaa Allah terus mengalir pahala bagi beliau-beliau yang telah mencurahkan pikiran dan tenaganya, serta waktunya untuk menanamkan tauhid, belajar adab, ilmu sebelum amal dan iman sebelum al quran, membuat anak merubah mindset-nya, mulai bisa membedakan mana yang lebih baik untuk urusan akhiratnya dibanding urusan dunianya. Alhamdulillah cukup terlihat dikala pulang ke rumah tak banyak yang membuatnya menarik seakan dia hanya ingin ketemu penghuni rumah untuk melepas rindu, tidak ingin makan ini dan itu, lebih memilih "seadanya".
Sebagian anak yang seumur dengannya mungkin masih lebih memilih bermain dibandingkan menuntut ilmu dengan mengenyampingkan kenyamanan saat di rumah selama ini.
Pelajaran dari anak kami membuat kami teringat kisah-kisah para sahabat, seperti Umair bin Al Humam bin Al-Jamuh Al-Anshori As Sulaimi, yaitu sahabat yang ikut dalam perang Badar, Ia pertama kali terbunuh dalam jihad fii sabilillah. Sahabat Anas bin Malik menceritakan kisahnya…. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di saat perang Badar bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi!” Mendengar itu, ‘Umair bin Al-Humam berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Ya!” ‘Umair berkata, “Bakh! Bakh!” (Ini adalah kalimat yang diucapkan untuk mengagungkan suatu perkara yang baik).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya, “Mengapa engkau mengatakan Bakh….Bakh?” ‘Umair menjawab: “Demi Allah wahai Rasulullah, tidak lain kecuali karena aku berharap menjadi salah satu penghuninya!”
Beliau bersabda: “Engkau termasuk penghuninya!” Kemudian ‘Umair bin Al Humam mengeluarkan butir-butir kurma dari kantong anak panahnya dan mulai memakannya. Namun tiba-tiba dia bergumam, “Jika aku hidup menunggu usainya menikmati kurma-kurma ini, alangkah lamanya!” ‘Umair segera membuang kurma yang masih tersisa, kemudian ia terjun ke kancah peperangan hingga mati syahid. (Diceritakan kembali dari Hadits Anas bin Malik riwayat Muslim no. 1901)
Semoga generasi ini segera kembali seperti generasi terbaik yang pernah ada yang di depan matanya selalu mementingkan akhirat. Aamiiiiiin. Biarlah kesedihan itu lama-lama sedih sendiri bersamamu Nak, Biarlah kelelahan itu lelah sendiri mengejarmu, kokohkan keimananmu dalam rangka mengenal Rabb mu yang sebenar-benarnya, dalam rangka mengejar syurga yang telah Rabb mu janjikan melalui lisan indah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Semoga cara-caramu menghilangkan kangen di depan matamu adalah cara tepat yang Allah pilihkan untuk mu. Ini baru satu cara yaitu mengembalikan peci di depanmu kepada ayah agar kau tak kangen lagi sama ayah, dan kau lebih memilih menyonsong ridho Rabb mu, mempelajari ilmu Allah yang sangat luas. Karena syurganya bisa dijemput dengan ilmu yang telah Allah sampaikan, melalui Rasulullah hingga kepada kita saat ini. Jika kita menjaga Allah in syaa Allah, Allah kan jaga kita selalu dalam kebaikan.
Kami turut berdoa seperti do'a Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas kecil:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir.” [H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya, ini lafazh Imam Ahmad].
Semoga Allah selalu bersamamu, dan orang-orang sholih selalu bersamamu, dan Allah selalu memberikan cara terbaik kepadamu dalam segala hal, karena Dia yang maha tau tentang dirimu, karena Dia yang menciptakanmu, mohonlah kepadaNya.
Semua ini memberikan hikmah besar bagi kami, kami jadi semakin banyak berdoa, untukmu, untuk orang terdekat sekitarmu dan negeri serta dunia ini.
Semoga Allah memberkahi kita, jadilah insan yang kokoh yang diinginkan oleh sang Pencipta.


